Entri Populer

Kamis, 25 November 2010

Pasca Letusan Merapi

 Kedahsyatan "Wedus Gembel" atau awan panas yang meluncur 05 November 2010 lalu menyebabkan begitu banyak kerusakan serta memakan korban jiwa dalam jumlah tidak sedikit.
hamparan pasir
Saya dan beberapa teman nekad melakukan perjalanan ke lokasi bencana Merapi pagi itu, walaupun sebenarnya belum ada ijin untuk melakukan pemotretan di lokasi ini.
kami menelusuri jalan "tikus" untuk mencapai lokasi ini, karena jalan utama sudah pasti ditutup dan tidak dapat dilewati oleh siapapun yang tidak berkepentingan. Saat akan memasuki daerah Cangkringan, Umbulharjo kami sempat bertemu petugas yang mengamankan batas aman Merapi,. Beliau menyarankan agar kami tidak melanjukan perjalanan dengan mempertimbangkan beberapa alasan, salah satunya keselamatan kami nantinya.
Namun,peringatan itu tidak menyurutkan niat kami untuk menyaksikan langsung keadaan lereng Merapi pasca letusan dahsyat 3 pekan lalu. 


kering
Pemandangan yang terbentang di hadapan kami hanya padang pasir berdebu dan berbatang-batang pohon tumbang yang daunnya tak lagi berwarna hijau. Tempat kami berpijak penuh dengan debu yang masih terasa hangat di kulit. Takut dan sedih menyaksikan itu semua ada di hadapan kami saat ini, namun keingintahuan kami terus mendorong langkah kaki kami untuk menelusuri padang pasir tersebut.




Akhirnya kami tiba di Padukuhan Ngepringan yang berjarak 10 Km dari puncak Merapi tengah hari, keadaan di sana begitu mencekam. Hanya suara gemuruh Merapi dan "raungan" lalat yang mengerumuni bangkai ternak yang menjadi korban awan panas yang terdengar di sana. Bau Bangkai yang masih begitu menyengat sangat mengganggu penciuman, sementara masker yang kami gunakan untuk melindungi sistem pernafasan kami pun tak banyak membantu. 

wedus gembel?
tinggal kenangan
Kami menemukan perkampungan yang sudah tak berpenghuni di balik hutan "gosong". Seluruh rumah sudah ditinggalkan pemiliknya mengungsi untuk menyelamatkan diri saat erupsi terjadi. Rumah yang ditinggalkan secara terburu-buru oleh pemiliknya menjadi saksi yang mampu menceritakan kedahsyatan awan panas yang menghantam mereka dini hari tersebut. Beberapa rumah roboh dan rata dengan tanah, yang mampu bertahan dan tetap berdiri tak luput mengalami kerusakan. Pintu, jendela, atap bahkan perabot di dalam rumah ikut menjadi korban. 
masih ada yang hidup
Karena jaraknya yang begitu dekat dengan puncak Merapi tak ada yang berani menginjakkan kakinya untuk berlama-lama berada di sana, termasuk kami. Kami segera memutuskan kembali ke kota Yogyakarta setelah mengobati rasa penasaran kami terhadap lereng Merapi yang sebelumnya kami kunjungi akhir Oktober lalu.Keadaan telah berubah 180 derajat.  Semoga sepenggal cerita ini mampu menggambarkan sedikit keadaan di sana pada seluruh pembaca. Terima Kasih.