Entri Populer

Minggu, 12 Desember 2010

Bahasa walikan ciri khas Arek Malang

Bahasa Walikan merupakan ciri khas dari Arek Malang,walaupun diberbagai daerah juga ada bahasa walikan,tetapi bahasa yang digunakan arek-arek malang ini sangat gampang di eja dan diucapkan. Bahasa walikan mulai zaman penjajahan sudah ada dan digunakan oleh para pejuang GRK (Gerilya Rakyat Kota),fungsinya sbagai kata sandi utk mengelabui para penjajah dalam berkomunikasi,sehinnga apa yang dirahasikan oleh pejuang-pejuang tidak bocor dan terdengar oleh penjajah. Berawal dari kegagalan-kegagalan yang sering terjadi, para pemuda pejuang itu akhirnya menemukan, bahwa hal itu terjadi karena adanya antek atau mata-mata yang disusupkan oleh Belanda di kalangan mereka sendiri, maka untuk mengantisipasi agar kejadian tersebut tidak terulang lagi, dari pemikiran cerdas salah seorang pemuda di kelompok tersebut, lahirlah osob kiwalan atau boso walikan, bahasa yang dibolak-balik untuk digunakan sebagai bahasa resmi di kalangan mereka. Dan setelah osob kiwalan itu digunakan, memang dapat ditangkap beberapa mata-mata yang menyusup di pasukan pemuda tersubut dengan cara mengajak berkomunikasi dalam boso walikan, sehingga mata-mata tersebut tidak mengerti dan tidak paham, mata-mata itu kebanyakan menyamar sebagai penjual jajanan dan rokok, kadang menyamar sebagai pelayan warung . Maka setelah osob kiwalan itu digunakan, pasukan GRK itu jadi semakin solid dan tidak mudah dipatahkan gerakannnya, karena para anggota GRK senantiasa berkomitmen untuk menjaga rahasia dan selalu berkomunikasi antar anggota dengan osob kiwalan.

Tapi sayangnya pemuda cerdas pencipta osob kiwalan itu, Suyudi Raharno, gugur dalam pertempuran sengit di pagi buta pada september 1949 di wilayah dusun Genukwatu. Genukwatu yang sekarang disebut daerah Purwantoro. Dan jazad beliau sekarang terbaring damai di Taman Makam Pahlawan Suropati Malang. Dan Wasito yang membantu terciptanya osob kiwalan itupun, sebelumnya juga telah mendahului gugur di palagan atau medan laga pada waktu pertempuran di Gandongan, yang kalau sekarang disebut daerah Pandanwangi, daerah diseputar Jl. LA Sucipto – Kalisari – Wendit. Dan jazad beliaupun juga telah terbaring damai di TMP Suropati. Tapi sayangnya dari pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan belum ada itikad baik untuk memberi penghargaan dan  melestarikan nilai-nilai perjuangan kedua orang pejuang yang telah mengharumkan Bangsa dan Negara, dan Malang Raya khususnya. Dan bagaimanapun juga terciptanya osob kiwalan itu merupakan suatu hal yang kreatif dan menambah keanekaragaman khazanah bahasa dan budaya tanah air, disamping muatan nilai-nilai perjuangannya yang agung . Dan kita sebagai warga Malang raya sudah seharusnya tidak usah malu dan merasa kampungan untuk mulai menggunakannya lagi untuk bahasa pergaulan sehari-hari atau bahasa sosialita, karena dengan melakukan itu, berarti kita sudah ikut melestarikan dan menghargai nilai-nilai perjuangan yang telah dicanangkan oleh para pendahulu kita, yang telah gugur sebagai tumbal dan pengharum Ibu Pertiwi yang kita cintai semua.

 Sampai saat ini pun bahasa walikan masuh tetap digunakan oleh semua masyarakat malang. Dan bisa dikatakan bahasa walikan kota malang adalah salah 1 ciri khas arek malang dan salah 1 budaya yang tidak hilang ditelan zaman.

Senin, 06 Desember 2010

Coban Jahe

Nama Jahe, sebenarnya diambil dari Bahasa Jawa ‘Pejahe’ yang berarti meninggal dunia. Nama itu muncul, setelah sekitar satu regu tentara (TNI, sekarang) di bawah komando Ali Murtopo melakukan perlawanan terhadap pemerintah Belanda.
Hanya saja, perjuangan itu harus berakhir dengan di luluh-lantakkannya perbukitan di sekitar pintu masuk Coban Jahe dengan bom-bom yang dilontarkan dari atas pesawat. Mereka yang tewas karena tembakan bom ini, dibiarkan begitu saja oleh Belanda. Sebaliknya, warga sekitarlah yang kemudian mengumpulkan jenazah yang saat itu meninggal dimana-mana untuk dikebumikan.
Seiring bergantinya waktu, nama ‘Pejahe’ pun lama-kelamaan berganti Jahe. Begitu juga nama makam, mereka yang dikebumikan pun dibuatkan tempat peristirahatan terakhir bernama Makam Pahlawan Kali Jahe. Keberadaan Makam Pahlawan Kali Jahe sendiri, bisa dijumpai sekitar 50 meter, tatkala sebelum pintu masuk Coban Jahe.
Di sisi kanan jalan, berdiri pembatas sederhana berukuran segi empat yang di tengahnya terdapat sebuah tugu. Di pintu masuk yang menghadap ke jalan itu pula, bisa dijumpai sebuah nama makam Pahlawan Kali Jahe.
 WISATA plus tantangan. Begitulah kesan yang muncul tatkala datang ke air terjun Coban Jahe di Dusun Begawan, Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung. Bagaimana tidak, air terjun yang menyeguhkan kealamian alamnya itu juga menghadirkan tantangan untuk pengunjungnya. Berikut laporan wartawan Malang Post, Sigit Rokhmad.

Berkunjung ke Coban Jahe, anda akan dibuat terkesima dengan kondisi alam sekitarnya. Maklum, di sekitar kawasan air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 40 meter hingga 45 meter itu, dedaunan dan rerumputan dibiarkan tumbuh bebas. Sehingga tidaklah heran bila bebatuan licin dan rerimbunan tanaman bisa dijumpai di sekitar derasnya debur air.
Tak hanya itu, di setiap sisi air terjun bisa dijumpai pula cadas-cadas berukuran raksasa memperkokoh kondisi Coban Jahe. Sementara di sisi lainnya bebukitan hijau menjulang tinggi.  Kealamian lain yang bisa dinikmati adalah akses jalan menuju ke lokasi yang masih dalam kawasan Perhutani RPH Sukopuro-Jabung. Dari pintu masuk Coban Jahe, anda akan mendapati jalan setapak berupa tanah liat.
Sementara sekitar 100 meter dari pintu masuk ke arah air terjun, juga akan didapat hamparan tanah kosong yang oleh pengunjung biasanya dimanfaatkan untuk memarkir motor yang dibawa. Di sekitar lokasi ini, pohon Mahoni cukup banyak. Tantangan lain yang bisa dinikmati dari perjalanan ke Coban Jahe, yakni akses jalan menuju ke lokasi. Selain di kanan-kiri jalan terdapat sawah dan kebun ubi, kondisi jalannya juga masih dibiarkan tanah liat. Bahkan, sesekali tanah liat tersebut juga berlubang.
Selain akan menemui jalan setapak juga bisa didapati jalan dari bebatuan tajam atau jalan makadam. Posisinya pun, berada di jalan tanjakan dan menurun ke arah lokasi wisata. Bagi anda yang suka dengan wisata plus tantangan, tidak ada salahnya mengunjungi air terjun Coban Jahe di Jabung.

Kamis, 25 November 2010

Pasca Letusan Merapi

 Kedahsyatan "Wedus Gembel" atau awan panas yang meluncur 05 November 2010 lalu menyebabkan begitu banyak kerusakan serta memakan korban jiwa dalam jumlah tidak sedikit.
hamparan pasir
Saya dan beberapa teman nekad melakukan perjalanan ke lokasi bencana Merapi pagi itu, walaupun sebenarnya belum ada ijin untuk melakukan pemotretan di lokasi ini.
kami menelusuri jalan "tikus" untuk mencapai lokasi ini, karena jalan utama sudah pasti ditutup dan tidak dapat dilewati oleh siapapun yang tidak berkepentingan. Saat akan memasuki daerah Cangkringan, Umbulharjo kami sempat bertemu petugas yang mengamankan batas aman Merapi,. Beliau menyarankan agar kami tidak melanjukan perjalanan dengan mempertimbangkan beberapa alasan, salah satunya keselamatan kami nantinya.
Namun,peringatan itu tidak menyurutkan niat kami untuk menyaksikan langsung keadaan lereng Merapi pasca letusan dahsyat 3 pekan lalu. 


kering
Pemandangan yang terbentang di hadapan kami hanya padang pasir berdebu dan berbatang-batang pohon tumbang yang daunnya tak lagi berwarna hijau. Tempat kami berpijak penuh dengan debu yang masih terasa hangat di kulit. Takut dan sedih menyaksikan itu semua ada di hadapan kami saat ini, namun keingintahuan kami terus mendorong langkah kaki kami untuk menelusuri padang pasir tersebut.




Akhirnya kami tiba di Padukuhan Ngepringan yang berjarak 10 Km dari puncak Merapi tengah hari, keadaan di sana begitu mencekam. Hanya suara gemuruh Merapi dan "raungan" lalat yang mengerumuni bangkai ternak yang menjadi korban awan panas yang terdengar di sana. Bau Bangkai yang masih begitu menyengat sangat mengganggu penciuman, sementara masker yang kami gunakan untuk melindungi sistem pernafasan kami pun tak banyak membantu. 

wedus gembel?
tinggal kenangan
Kami menemukan perkampungan yang sudah tak berpenghuni di balik hutan "gosong". Seluruh rumah sudah ditinggalkan pemiliknya mengungsi untuk menyelamatkan diri saat erupsi terjadi. Rumah yang ditinggalkan secara terburu-buru oleh pemiliknya menjadi saksi yang mampu menceritakan kedahsyatan awan panas yang menghantam mereka dini hari tersebut. Beberapa rumah roboh dan rata dengan tanah, yang mampu bertahan dan tetap berdiri tak luput mengalami kerusakan. Pintu, jendela, atap bahkan perabot di dalam rumah ikut menjadi korban. 
masih ada yang hidup
Karena jaraknya yang begitu dekat dengan puncak Merapi tak ada yang berani menginjakkan kakinya untuk berlama-lama berada di sana, termasuk kami. Kami segera memutuskan kembali ke kota Yogyakarta setelah mengobati rasa penasaran kami terhadap lereng Merapi yang sebelumnya kami kunjungi akhir Oktober lalu.Keadaan telah berubah 180 derajat.  Semoga sepenggal cerita ini mampu menggambarkan sedikit keadaan di sana pada seluruh pembaca. Terima Kasih.



Kamis, 28 Oktober 2010

Pengungsi Bencana Erupsi Merapi

camp pengungsi
"                                                                                     

Situasi di camp pengungsi setengah jam setelah Gunung Merapi memuntahkan awan panas yang biasa disebut "Wedus Gembel" 
"Wedus gembel" alias "domba gimbal" bernama ilmiah pyroclastic density flow. Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Subandrio menyatakan, 'wedus gembel tak lain adalah awan panas yang berisi material-material muntahan Gunung Merapi saat meletus. Batu-batu dengan ukuran besar, kerikil dan juga abu yang menjadi satu dengas gas, bergerak ke perbukitan yang ada di sisi Gunung Merapi.

Karena gerakan dari muntahan Merapi tersebut tak teratur seakan akan bergumpal gumpal dan berwarna putih dan dari jarak jauh seperti bulu wedus gembel [domba gembel] maka warga setempat menamakannya 'wedus gembel'.

Terlelap
                                                               
Awan panas ini yang akhirnya menyapu bersih tempat tinggal para warga di daerah lereng Merapi. Selain tempat tinggal, ladang, dan hewan ternak, kejadian ini juga mengakibatkan puluhan warga lereng Merapi kehilangan nyawanya. Salah satu korban meninggal akibat keganasan "wedus gembel" adalah seorang juru kunci Merapi yaitu Mbah Marijan. 

Warga yang berhasil dievakuasi akhirnya selamat dari bencana erupsi Merapi. Mereka ditampung di  salah satu lokasi pengungsian Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman. Saat saya dan beberapa teman mengunjungi lokasi pengungsian tersebut, belum banyak bantuan yang diberikan kepada para pengungsi. bahkan tempat tersebut masih tidak mampu menampung seluruh warga. beberapa relawan dari berbagai pihak mulai datang beberapa jam kemudian. Bantuan tersebut berupa selimut, makanan, air minum, dan obat-obatan.

Warga yang berada di Camp tersebut kemungkinan akan tetap berada di sana sampai Merapi dinyatakan aman oleh pihak BMKG.


Sumber: Vivanews

Selasa, 19 Oktober 2010

Jaga dan lestarikan peninggalan budaya kita !

         " Prambanan"                      " Relif Candi Prambanan"

Candi Prambanan merupakan Candi Hindu terbesar yang ada di Indonesia,berketinggian kurang lebih 47 meter,dibangun pada abad 9. Letaknya berada 17 km arah timur Yogyakarta di tepi jalan raya menuju Solo.
Banyak candi dan peninggalan-peninggalan budaya yang tersebar diIndonesia tetapi banyak pula peninggalan budaya yng rusak baik itu ulah manusia maupun kerusakn yang ditimbulkan oleh alam. Memang sangat disayangkan dijaman sekarang banyak orang yang acuh terhadap budayanya sendiri. Tetapi jika salah satu budaya kita diklaim negara lain,mereka berkoar dan merasa tidak terima kalau budayanya di ambil negara lain.Untuk itu, mari kita jaga dan lestarikan peninggalan budaya kita jangan hanya cuma punya budaya tetapi tidak menjaga dan melestarikannya!


  
   



Acara Bantengan 2010

"Sang Penari" 
Salah satu kesenian dan budaya Indonesia yang dihelat oleh Pemerintah Kota Batu Malang sangat mengesankan selain menyedot perhatian para wisatawan domestik n wisatawan mancanegara. Acara ini tidak hanya dinikmati oleh masyarakat saja,tetapi para photographer baik amatir maupun profesional diberikan space untuk ikut andil dalam bagian acara tersebut untuk dipamerkan. Acara Bantengan yang diadakan tiap tahun ini diikuti beberapa kecamatan yang ada dikota Batu Malang Atraksi Bantengan yang banyak mendominasi acara ini walaupun cuma ada beberapa tari-tarian daerah. Semoga acara Bantengan ini terus dihelat tiap tahunnya agar budaya dan kesenian Indonesia tetap terjaga dan tetap dilestarikan.